Indahmnya Goa Jatijajar Kebumen
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan. Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady, L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10 juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat sekarang.
Pintu Masuk Gua Jatijajar Tampak dari dalam
Gejala
endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan
sedimen gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan
pelecypoda terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat
tua. Sedimen berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis
yang tersingkap di pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga
tersingkap pada sebuah sisa kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk.
Cangkang-cangkang pipih pelecypoda pada sedimen gua ini tersusun secara
alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong utama masuk gua, yaitu
utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua dipenuhi oleh
tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal tahun
1805.
Patung Dinosaurus
Pembentukan
kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari
permukaan air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah
tanah yang masih aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui
beberapa sendang, yang letaknya berkisar antara 1-3 m di bawah lorong
fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam
sungai bawah tanah yang dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu
Jombor dan Puserbumi tidak dapat dimasuki wisatawan umum, kecuali
mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata. Sebagai mata air, Sendang
Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris tengah sekitar 50 cm.
Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus sepanjang lebih dari 1
m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat ditelusuri dengan metode
penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan ulang larutan
CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan
gurdam dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan
menjadi objek wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua
Jatijajar dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Sendang Mawar
Lubang-lubang
di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas penambangan
fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan
dan leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua
setinggi 24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun
membundar yang masih aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun
1802 oleh Djayamenawi, Petani tersebut terperosok ke dalam gua melalui
lubang yang ada dipermukaan, dan setelah tanah yang menutupi lorong
dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut gua sekarang.
Lorong
Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975,
disepanjang lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan
Legenda Raden Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua
Jatijajar.
Kamandaka
yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota Kerajaan
Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung
Slamet. Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2
permaisuri. Dari permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang
yaitu Banyak Contro dan Banyak Ngampar. Karena permaisuri pertama
meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat permaisuri kedua, Dewi
Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi syarat mau menjadi
permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja, menggantikan
Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak Blabur
dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia
berencana mengangkat putra sulungnya, Banyak Contro, untuk
menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak Contro, dengan
alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya mau
menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong.
Oleh orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten
Pasir Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya
terkabul, ia harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi
orang biasa. Banyak Contro selanjutnya menyamar menjadi orang
kebanyakan, dan berganti nama menjadi Kamandaka.
Patung Raden Kamandaka
Setelah
sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho,
penguasa Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya
sudah bersuami kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan
penampilan putri Pasir Luhur ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka
berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso. Tetapi pada suaru saat ketika
mereka sedang berdua di taman keputren seorang prajurit kadipaten
memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang mengiranya sebagai
pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri. Tetapi
sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih
Reksonoto supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka
yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras.
Setelah jauh dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju
sebuah desa. Di Desa Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro.
Kamandaka selanjutnya diangkat menjadi anaknya
Silihwarni
sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia mendapat
tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan,
kujang Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang
dicari-cari Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit
Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih,
bertemu dengan Kamandaka dan menantangnya bersabung ayam. Saat ayam
jantan masing-masing bersabung, Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang
lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas. Kamandaka terluka parah, tetapi
ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana Kamandaka dapat meloloskan diri
dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan Silihwarni sekarang dinamakan
Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat Kamandaka beristirahat
di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di lambungnya. Tempat
iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras). Silihwarni
bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu anjing-anjing
pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu tempat,
yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat
itu dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya
Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia bersembunyi di dalamnya. Silihwarni
yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak menantang Kamandaka supaya ke
luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka menjawab, bahwa sebenarnya
ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro. Mendengar jawaban itu
Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya = (sejatine) Ia
juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar kalau
mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya
Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa niatnya
mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung,
baratdaya Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi
kera bertemu dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya
Adipati Kandandoho berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera
menarik perhatian Dewi Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan
dibawa ke Pasir Luhur. Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak
mau makan apa-apa, sehingga meninmbulkan kekhawatiran Adipati
Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang dapat memberi makan kera
tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang mencobanya tetapi
selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara maka kera
itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama Lutung
Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya
diketahui oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan
selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan
tidak dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran
Lutung Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia
bersedia menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan
diajukannya dipenuhi. Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso
diperbolehkan membawa Lutung Kasarung pada saat pengantin dipertemukan.
Prabu Pule Bahas langsung menyetujui.
Ketika upacara pengantin
berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga menimbulkan
kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan keduanya
berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu
Kamandaka. Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya
dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan
Pajajaran. Niat Prabu Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja
tidak kesampaian. Karena pantang bagi seseorang yang sudah terkena
pusaka kerajaan Kujang Pamungkas menjadi raja Pajajaran. Akhirnya
Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di Pasir Luhur, menggantikan
ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur menggantikan Prabu siliwangi
menjadi raja di Pajajaran.
Kepercayaan Masyarakat
Sendang Kantil
Mata
air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya
mempunyai khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi
dan Jombor konon dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai
tujuan-tertentu. Sedang air Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci
muka selain menjadi awet muda juga akan tercapai apa yang
dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara
turun-temurun ini mengakar kuat di hati sanubari masyarakat Kebumen dan
sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu menurut penanggalan Jawa
tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama pada malam hari.
Segmen
lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua
yang tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam,
sehingga udara di dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya
berhubungan dengan gua buatan, bekas penambangan kapur.
panjang
Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama
pemilik lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor
di masa lalu diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping,
tidak jauh dari pintu masuk Gua Dempok.
panjang
Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama
pemilik lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor
di masa lalu diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping,
tidak jauh dari pintu masuk Gua Dempok.
Gua Intan
Gejala
endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan
dan barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang
struktur retakan yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu
masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen pasir lempungan berwarna
merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil moluska, sehingga
kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska adalah
binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan
sedimen pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua
terendam air, dan sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua
ditutupi oleh sedimen tersebut. Kumpulan fosil ini berumur
Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan setidaknya sudah ada sejak 1 juta
tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan
tinggi maksimum 20 m dapat dicapai dengan melewati lubang sempit selebar
1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit berukuran maksimum 1
m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi alam.
Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini
umumnya masih aktif.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar