1. Ritual dan Upacara Panen Sarang Burung Wallet
SUMBER : http://kebumenkab.go.id/index.php/public/page/index/48
Upacara adat ini
diadakan di desa karangbolong, kecamatan gombong, kabupaten kebumen jawa
tengah bagian selatan. Upacara ini diadakan pada bulan ke Sembilan di
pananggalan atau kalender jawa karena waktu tersebut adalah waktu yang
paling tepat untuk panen sarang burung walet.
SUMBER : http://kebumenkab.go.id/index.php/public/page/index/48
- Ritual dan Upacara Panen Sarang Burung Wallet
Upacara adat ini diadakan di desa karangbolong, kecamatan gombong,
kabupaten kebumen jawa tengah bagian selatan. Upacara ini diadakan pada bulan
ke Sembilan di pananggalan atau kalender jawa karena waktu tersebut adalah
waktu yang paling tepat untuk panen sarang burung walet.
Menurut
kepercayaan sarang burung walet di desa karang bolong itu adalah milik dari nyi
roro kidul si penguasa laut kidul. Supaya tidak terkena musibah maka panen
sarang burung walet harus dilakukan dengan mengadakan rangkaian ritual adat
yang intinya sebagai upacara keselamatan. upacara adat ini di pimpin oleh pak mandor.
Sesaji buat
nyi roro kidul disiapkan antara lain ;
1. Kain
lurik hijau gadung, udang wulung, selendang, Kasur, dan bantal putih.
2. Makanan
sesaji yang di percaya di senangi nyi roro kidul. Sebagai contoh lain adalah di
bibir gua di pantai karang bolong di laksanakan persiapan pagelaran wayang
kulit dengan semua perangkat gamelan dan panayagan.
Sebagai
contoh lain adalah di bibir gua di pantai karang bolong di laksanakan persiapan
pagelaran wayang kulit dengan semua perangkat gamelan dan panayagan.
Upacara adat
ini adalah suatu amanat leluhur. Dahulu kata orang tua kiai surti adalah utusan
kerajaan mataram kartasura. Dia ditugasi mencari obat untuk permaisuri yang
sedang sakit sampai akhirnya kiai surti tiba di pantai karang bolong. Kiai surti
lalu bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit dari dewi suryawati anak buah
dari nyi roro kidul. Sang dewi memberikan petunjuk bahwa obat yang dicari itu
adalah sarang burung walet yang ada di dalam goa karang bolong. Sejak peristiwa
itu kiai surti akhirnya menikah dengan dewi suryawati secara lahir.
Di pagelaran
wayang kulit terdapat peraturan yaitu tokoh di wayang tidak boleh gugur atau
mati di medan perang sebab jika di pagelaran itu ada yang mati di yakini akan
ada musibah kepada pemetik sarang burung walet.
Puncak upacara di tutup dengan acara syukuran
beserta pagelaran tari tayub Keesokan harinya acara memetik sarang burung walet
di percayai akan aman dan selamat sebab sudah mendapat restu dari nyi roro
kidul.
2. RITUAL CAH ANGON URUT SEWU Pantai Pranji ,
Desa
Entak Kecamatan Ambal Kebumen
Pelaksana
Unsur Desa ,
Serikat Remaja Urut Sewu ( SEREUS) dan Bina mandiri Sosialife
Tempat :
Pantai Pranji, Desa Entak, Kecamatan Ambal
Kebumen Kegiatan :
- Membuat sangon ke Pantai Segara Kidul dengan khas
membawa telur hijau/telur bebek.
- Melakukan Kirab Sapi ke Pantai Segara Kidul
- Menggelar aneka pentas kesenian rakyat setempat
- Menggelar ruwatan missal (ngguang sial : jawa)
1. Ngiub/ngayom
2. Doa ritual
3. Mbabar
Wilujengan Entak –entik
4. Nyumed
Pondok Alang-alang Sumber Sengkolo
5. Ngidung Cah angon
5.Menek blimbing undaran (ngundhuh Kabegjan )
Surak Hore (bersenang-senang dengan mengucapkan
rasa syukur kepada Allah Swt ).
Maksud dan
melestarikan :
Melestarikan
dan meluhurkan peninggalan nenek moyang Desa Entak yang adiluhung berupa seni,
budaya yang hampir punah agar tetap lestari sebagai asset budaya bangsa
- Ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt yang telah
memberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan dan kemurahan rejeki bagi hamba
Nya.
- Wisata budaya dan religius
- Sebagai wadah promosi Agro wisata
PROSESI
GEBYAG CAH ANGON DESA ENTAK KECAMATAN AMBAL KEBUMEN
Warga secara bermai-ramai mengarak binatang ternak mereka dan dikumpulkan di
pinggir pantai. Tidak hanya orang dewasa yang membawa sapi yang diberi kalung
sesaji anak-anak juga membawa kambing dengan beraneka ragam hiasan di lehernya.
Di hamparan pesisir yang luas itu tampak seperti pasar hewan menjelang hari
raya qurban . Ratusan sapi dan kambing dilepas ditempat yang disediakan.
Sementara sebagaian warga lain, mengikuti hiburan yang telah ditanggap seperti
kesenian kethoprak, kuda kepang hingga musik dangdut.
Acara
dilanjutkan dengan selamatan yakni dimulai dengan pembacaan doa dipimpin oleh
Sesepuh desa. Setelah itu tumpeng dihias dengan janur kuning menjadi rebutan
warga. Puncak acara berupa pembakaran kandang bambu sebagai symbol
menghilangkan sengkala. Dahulu yang dibakar adalah alang-alang yaitu sejenis
rumput yang tumbuh liar di sekitar pantai , namun karena alang-alang sudah
sangat jarang maka sebagai penggantinya adalah jerami yang dipasang sebagai
atap pada sebuah gubug. Gubug inilah yang dibakar dengan dirobohkan dahulu.
Acara yang
lain dari kegiatan Cah angon adalah Tradisi Entak-Entik atau biasa disebut
dengan Sangon Pesisiran . Entak bermakna Selamatan untuk kalangan orang tua
sedangkan Entik selamatan untuk anak-anak. Entak inilah ahirnya menjadi nama
sebuah Desa yaitu Desa Entak.
Sejarah
Sejak jaman dahulu anak-anak yang masih
berumur 12 tahun sudah terbiasa menggembala ternak di Pesisir, bocah angon
biasanya membawa bekal makan untuk sangu (bekal) makan. bermula dari tradisi
itulah setiap setahun sekali khususnya di bulan Maulid Nabi Muhammad Saw ,
anak-anak Penggembala membawa makanan dari rumah dan dimakan bersama di tempat
penggembala. Di tempat itu juga diadakan lomba Panjat belimbing yang seakan
memaknai apa yang terdapat dalam tembang Sunan Kalijaga .
“ Cah angon,
cah angon , penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna, kanggo basuh dodotira”
3. INGKUNGAN SYURAN BANYUMUDAL
Lokasi :
Di Masjid
Banyumudal Kuwarisan Panjer Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen . Acara ini
dilaksanakan dalam rangka memperingati seorang Tokoh Ulama besar jawa yang
menurunkan para ahli agama dan Sunan dan memeriahkan bulan Syuran /Muharam .
Pelaksanaannya jatuh pada Jum’at Kliwon atau kalau tidak ada hari Jum’at Kliwon
pada bulan itu, maka dilaksanakan pada hari Jum’at Pon. Para peserta adalah
warga Dusun Kuwarisan Kelurahan Panjer tak terkecuali baik itu muslim ,non
muslim , penduduk asli maupun pendatang yang sudah menikah atau pernah menikah
termasuk peserta adalah para keturunan yang ada di luar daerah sehingga tidak
heran kalau setiap tahun jumlah peserta Tumpeng dan Ingkung semakin banyak
sampai ribuan . Pada tahun 2005 perayaan itu masuk MURI dan mendapatkan
penghargaan Tumpeng dan Ingkung terbanyak di Indonesia sebanyak 4557 . Pada
tahun ini 2009 perayaan Ingkungan Syuran dilaksanakan pada Hari Jum’at Kliwon
Tanggal 2 Januari 2009 dan 18 Desember 2009 di laksanakan oleh sekitar 5500 KK
atau 5500 Tumpeng dan Ingkung
PROSESI :
Pada Jum’at
pagi para tokoh masyarakat menyembelih Ayam Jantan atau jengger yang sehat dan
tidak cacat atau boleh ayam betina tetapi belum pernah bertelur tentunya yang
sehat,tidak cacat dan bersih. Kemudian ibu-ibu memasaknya dengan cara digulai
dan memasukan ayamnya dalam keadaan diingkung . selama proses memasak tersebut
tidak boleh dicicipi sampai sebelum diberi doa tahlil setelah sholat jum’at
Tambahan menu Gulai , ibu-ibu juga memasak Lauk pauk . Usai sholat Jum’at,
Tumpeng dan Ingkung dibawa ke Masjid bersama keluarga . Acara dimulai dengan
kirab Tumpeng dan Ingkung dari Balai Desa /Kelurahan Panjer . Bupati, Dinas,
Muspika ,Lurah melaksanakan kirab dan masyarakat yang diwakili oleh RW dan RT
dilingkungan Kelurahan Panjer membawa Tumpeng dan Ingkung dengan ditandu dan
dibawa menuju Masjid Banyumudal. Dengan diiringi Kesenian tradisonal para warga
membawa Tumpeng dan Ingkung dengan cara digendong ada pula yang dengan
menggunakan becak . Para hadirin dalam Undangan adalah Bupati , Muspika dan
para tokoh agama dan masyarakat . Kegiatan Inti adalah pembacaan Tahlil yang
diimami oleh Tokoh Agama Senior setelah selesai kemudian serah terima ingkung
dari Lurah selaku Pimpinan Desa kepada Bupati untuk selanjutnya dipotong-potong
tumpengnya untuk diserahkan kepada masyarakat melalui Tokoh-tokoh agama dan
masyarakat yang diundang pada acara tersebut dan dimakan bersama-sama . Para
warga dan masyarakat menyusul dan dengan keluarga yang dibawanya
(Kakek,Nenek,Cucu dan buyut) makan Tumpeng dan Ingkung di Masjid atau dihalaman
yang sudah disediakan.
MAKSUD DAN
TUJUAN
Acara Ritual
Keagamaan Makan Tumpeng dan Ingkung di Masjid bertujuan :
Makan Nasi dan Lauk Ayam adalah untuk meningkatkan Gizi Keluarga
(dianjurkan
oleh agama pada bulan Muharram untuk makan makanan yang bergizi ).
- Bagi-bagi
Tumpeng dan Ingkung kepada Saudara dan orang yang lebih tua dan khususnya
kepada Fakir Miskin dan anak Yatim Piatu adalah perwujudan perbuatan hormat
pada orang yang sepuh (tua) makanya sebelum dibacakan doa makanan tidak boleh
dimakan dulu /dicicipi sebagai bentuk amal sodakoh dimana pada hari ke 10 bulan
Muharram diperintahkan oleh agama untuk memperbanyak memberikan amal khususnya
kepada Fakir Miskin dan para yatim Piatu .
- Ayam dalam
keadaan Diingkung adalah filosofi manusia , bahwa orang sebelum meninggalkan alam
fana/dunia diwajibkan melaksanakan sholat agar meninggalnya dalam keadaan
Chusnul Chotimah (Baik perbuatanya dan diterima arwahnya) .
- Warga dan
keturunan datang sendiri ke masjid sebagai bentuk Ikatan kekeluargan dan
persahabatan dimana keluarga dan keturunan yang sudah terpisah jauh atau belum
mengenal satu sama lainnya menjadi bersatu kembali dan menjalin ikatan keluarga
( ngumpulaken balung pisah : jawa)
- Undangan
terdiri para Tokoh Agama dan Masyarakat dengan Pimpinan Pemerintah sebagai
perwujudan bersatu dan bertemunya umat manusia baikdari kalangan Penguasa
wilayah dan maupun rakyatnya .
SUMBER : http://kebumenkab.go.id/index.php/public/page/index/48
Upacara adat ini
diadakan di desa karangbolong, kecamatan gombong, kabupaten kebumen jawa
tengah bagian selatan. Upacara ini diadakan pada bulan ke Sembilan di
pananggalan atau kalender jawa karena waktu tersebut adalah waktu yang
paling tepat untuk panen sarang burung walet.
Menurut kepercayaan sarang burung walet di desa karang bolong itu adalah
milik dari nyi roro kidul si penguasa laut kidul. Supaya tidak terkena
musibah maka panen sarang burung walet harus dilakukan dengan mengadakan
rangkaian ritual adat yang intinya sebagai upacara keselamatan. upacara
adat ini di pimpin oleh pak mandor.
SUMBER : http://kebumenkab.go.id/index.php/public/page/index/48